Kerugian Kejahatan Siber Finansial Tembus Rp9,1 Triliun, Kukar Bentuk Cyber Resilient Community

img

Mini Launching Proyek Perubahan Cyber Resilient Community melalui Pemolisian Masyarakat yang Kolaboratif guna Mitigasi Kejahatan Finansial Siber. (Kriz)

 

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Kerugian akibat kejahatan finansial berbasis siber di Indonesia kini mencapai sekitar Rp9,1 triliun. Nilai kerugian yang terus membengkak itu menjadi alarm bahwa ancaman di ruang digital tak lagi sekadar persoalan pencurian data, tetapi juga telah menggerus kondisi ekonomi masyarakat.

 

Merespons situasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) bersama Polda Kalimantan Timur mengimplementasikan Cyber Resilient Community (CRC) sebagai upaya memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi kejahatan finansial siber.

 

Implementasi program tersebut ditandai dengan Mini Launching Proyek Perubahan Cyber Resilient Community (CRC) melalui Pemolisian Masyarakat yang Kolaboratif guna Mitigasi Kejahatan Finansial Siber di Pendopo Odah Etam Tenggarong, Senin (3/8/2026).

 

Direktur Pembinaan Masyarakat (Dirbinmas) Polda Kaltim, Kombes Pol Arman, mengatakan CRC menjadi wadah kolaborasi antara Polri, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta akademisi untuk memperkuat edukasi kepada masyarakat melalui para Bhabinkamtibmas.

 

Sebelum turun ke lapangan, para Bhabinkamtibmas akan mendapatkan pembekalan mengenai berbagai bentuk kejahatan finansial siber, langkah pencegahan, hingga mekanisme pelaporannya.

 

"Kominfo, OJK, maupun Polri sudah memiliki tugas pokok terkait penanganan kejahatan siber. Namun melalui kegiatan ini, ketiga instansi tersebut dikolaborasikan, termasuk melibatkan akademisi," ujarnya.

 

Menurutnya, edukasi yang diberikan difokuskan pada berbagai bentuk kejahatan siber yang menimbulkan kerugian finansial, seperti pinjaman online ilegal, penyalahgunaan data pribadi, penipuan dengan mengatasnamakan pihak tertentu, hingga investasi bodong.

 

Masyarakat juga akan diberikan pemahaman mengenai pentingnya pelaporan agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin.

 

"Dalam hitungan detik, uang korban bisa berpindah tangan sehingga semakin sulit untuk dilacak apabila penanganannya terlambat," tuturnya.

 

Arman mengungkapkan, meski jumlah laporan yang masuk masih relatif sedikit, ancaman kejahatan finansial siber tidak bisa dianggap sepele.

 

Perkembangan teknologi juga diikuti dengan semakin beragamnya modus yang digunakan pelaku untuk memperdaya korbannya.

 

"Secara nasional, nilai kerugian akibat kejahatan finansial siber telah mencapai sekitar Rp9,1 triliun," ungkapnya.

 

Ia menyebut, penipuan melalui sambungan telepon yang mengaku sebagai pihak tertentu maupun investasi bodong masih menjadi modus yang kerap ditemukan.

 

Karena itu, lanjutnya, peningkatan literasi digital dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk menekan jumlah korban.

 

"Modus yang paling banyak ditemui antara lain pelaku yang menelepon dan mengaku sebagai pihak tertentu serta penipuan berkedok investasi. Yang perlu diantisipasi adalah perkembangan modus operandi para pelaku yang semakin beragam," jelasnya.

 

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kukar, Sunggono, mengatakan pelaksanaan CRC di Kukar merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi ancaman kejahatan siber.

 

Menurutnya, dipilihnya Kukar sebagai lokasi implementasi CRC merupakan tindak lanjut atas permintaan Bupati Kukar agar program tersebut menjadi bagian dari upaya pembangunan daerah.

 

"Kegiatan CRC ini dilaksanakan di Kukar atas permintaan Bapak Bupati. Ini menunjukkan bahwa Pemkab Kukar sangat berkeinginan agar CRC menjadi bagian penting dalam bagaimana pembangunan di Kukar mampu menghadapi kejahatan siber," ujarnya.

 

Ia menjelaskan, CRC melibatkan berbagai unsur, mulai dari kelompok masyarakat, tokoh agama, hingga pemangku kepentingan lainnya.

 

Mereka diharapkan dapat menjadi mitra dalam menyebarluaskan informasi mengenai ancaman kejahatan siber sekaligus membantu masyarakat memahami langkah yang harus dilakukan apabila menemukan indikasi tindak kejahatan digital.

"Kita berharap masyarakat mulai memahami dan semakin sadar bahwa kejahatan siber sekarang semakin banyak ragamnya, semakin banyak bentuknya, dan semakin sulit diidentifikasi. Namun, kejahatan siber tetap bisa diatasi dan diantisipasi apabila kita terus berkolaborasi," tutupnya. (Kriz)